Pasuruan - Di tengah upayanya dalam meningkatkan indeks pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Pacitan, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa harus menghadapi kenyataan bahwa daerah pemerintahannya merupakan daerah rawan bencana.
Tantangan yang dihadapi Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Pacitan untuk mensukseskan pelaksanaan pembangunan daerah semakin tidak mudah dengan adanya bencana non-alam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang ditetapkan sebagai bencana nasional yang meningkatkan kerentanan kelompok rentan dan marginal di wilayahnya.
Konsentrasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pemerintahan Desa (Pemdes) setempat harus dipecah. Di satu sisi Pemda dan Pemdes dituntut untuk melanjutkan agenda pembangunan, pada sisi yang lain Pemda dan Pemdes juga dituntut untuk melakukan langkah-langkah mitigasi terhadap potensi bencana alam yang rawan terjadi dan melakukan penanganan terhadap bencana non-alam Covid-19.
Kondisi tersebut menjadi spirit bagi Konsorsium Penguatan Desa Tanggap Covid-19 (Konsorsium PDTC) yang dipelopori Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos), Yayasan Investasi Sosial Indonesia (YISI), Atmawidya Alterasi Indonesia (AAI), dan Association of Resiliency Movement (ARM), untuk membantu Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Pacitan dalam meningkatkan kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam pelayanan data-informasi, pelayanan kesehatan dan perlindungan sosial ekonomi berkelanjutan (sustainable livelihood) bagi kelompok rentan dan marginal di masa pandemi Covid-19, dengan melaksanakan Program Memperkuat Desa dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Pemulihan Dampak Covid-19 di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Pacitan.
Program yang terlaksana berkat dukungan yeng diberikan mitra Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, PT. Palladium International Indonesia melalui proyek SIAP SIAGA ini diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) Data Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat Rentan dan Marginal serta Peta Rawan Bencana di tiga desa di Kabupaten Pacitan dan dua desa di Kabupaten Pasuruan, setelah sebelumnya Konsorsium PDTC melalukan kegiatan Koordinasi Para Pihak dengan stakeholder daerah, sosialisasi tingkat desa dan pendataan lapangan.
Ketua Konsorsium PDTC, Mohammad Kundori mengatakan FGD ini dilakukan guna mematangkan data yang telah dihimpun Konsorsium PDTC sehingga data yang dihasilkan memuat informasi yang strategis, akurat dan berkualitas.
“Data memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan. Begitu pentingnya data, pada 2016 Presiden Jokowi pernah menyatakan salah satu kunci untuk memenangkan kompetisi antar negara adalah dengan memiliki data dan informasi yang strategis, akurat dan berkualitas,” ujar Dhory yang juga menjabat sebagai Ketua Ademos tersebut.
“Mengingat betapa pentingnya data menjadi dasar bagi kita dalam melangkah, maka diadakanlah FGD di lima desa di Kabupaten Pasuruan dan Pacitan, yang salah satunya kita selenggarakan di Desa Karangjati Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan ini,” imbuhnya menjelaskan.
Kepala Desa Karangjati, Kuyatip, mengaku berterima kasih sekali telah dibantu dalam menggali data tentang kelompok rentan dan marginal di desanya.
“Saya jadi mengetahui beberapa hal yang sebelumnya mungkin belum saya tahu dan tentang apa yang sudah saya tahu sebelumnya saya jadi makin lebih memahami kondisi warga saya,” ujar pria paruh baya yang telah menjabat sebagai Kepala Desa Karangjati tiga periode tersebut.
Salah satu peserta FGD yang menjadi perwakilan kaum disabilitas, Sugeng Hartadi, juga merasa senang dengan adanya program yang dilaksanakan Konsorsium PDTC ini.
Lelaki disabilitas yang harus kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19 tersebut berharap dapat memiliki usaha yang dapat membantu memulihkan perekonomiannya, selain juga mendapatkan pelatihan dan pelayanan kesehatan yang diberikan dalam program ini.
0 Comments